Skip to main content

Posts

Bob Marley, Sang Pemantra Rasta Yusuf Arifin Kalau Jah (Tuhan) tidak memberiku lagu untuk aku nyanyikan, maka tak akan ada lagu yang bisa aku nyanyikan. (Bob Marley, mati dari bumi 11 Mei 1981) Gedung London Lyceum malam musim panas tahun 1975. Tanggalnya 18 dan 19 Juli. Konon di dua malam inilah Robert Nesta Marley, atau Bob Marley, tuntas memenuhi suratan nasibnya; menasbihkan dirinya sendiri menjadi pengkhotbah untuk kaumnya, kaum Rastafarian. Benar bahwa sejak sekitar akhir tahun 60an Bob Marley telah menjadi salah satu pengkhotbah paling fanatik kaum Rastafarian. Tetapi dua malam di gedung pertunjukan tua Inggris itu Bob Marley mencapai kesempurnaan yang hanya bisa diimpikan oleh banyak pemusik besar dunia, siapapun ia. Bob Marley mencapai titik ekstase transendental di atas panggung. Panggung, bagi pemusik, adalah altar untuk mencari ekstase transendental yang tak bisa mereka dapatkan di dunia yang materialistik. Pengganti altar gereja, saf-saf masjid, teras-teras candi atau ap...

Budaya Materi [Antariksa]

Budaya Materi Oleh Antariksa Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik dari sudut pandang masyarakat tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi (budaya pemanfaatan benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan benda). pertama, benda-benda bisa diletakkan dalam perspektif fungsional saja. Dalam perspektif ini sebuah piring berfungsi sebagai wadah makanan, senjata berfungsi sebagai alat berburu dan mempertahankan diri terhadap serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai pelindung kaki dsb. Fenomena peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam perspektif ini. Yang kedua, benda-benda bisa juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai totem, yaitu diasosiakan secara simbolik dengan sesuatu yang lain. Di sini benda-benda berperan sebagai pembawa maknamakna sosial tertentu. Cincin misalnya, yang tak terlalu penting dalam perspektif fungsional, dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan, kekayaan,...

medium extra

Purwokerto, pk. 17:40 [08/06/02] .. aku teringat akan kalimat panjang yang tertera di cover buku Pencerahan-Suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme, terbitan Kanisius... " Hidup bukanlah beban yang mematikan ide atau semangat, melainkan suatu tantangan yang merangsang manusia untuk kreatif.. [Mahatma Gandhi]" seringkali kita justru terjebak dalam haru-biru..romantisme usang dan semacamnya.. belakangan aku banyak belajar dari kawan-kawan ku seperti danto, seto, wahyu, anang, juga boodie... ngga' selamanya realita harus dihadapi vis-a'vis, secara frontal... atau kata jule tertendensasi (maksudnya pasti bertendensi..) yah, nyatanya tiap orang emang beda cara pandang sih.. untukku lebih enak omong yang nyata..realis ketimbang ide-ide... dan aku emang terbiasa dengan materialisme bukan idealisme... konkrit aja. waktu aku ketemu danto, ngga' ada ide gila apapun yang kelintas. biasa aja.. kita jalan bareng, gojeg kere.. di sisi lain aku juga punya dunia ...

Catatan seorang HRD manager (copas)

Catatan seorang HRD manager Berikut adalah sharing informal dari seorang kolega. Semoga bermanfaat. Sebagai manager HRD di sebuah perusahaan swasta, tahukah anda tugas apa yang membuat saya bosan setengah mati? Ya, kalau anda pernah bekerja di bagian HRD mungkin anda bisa menebaknya, yaitu membaca CV dan dokumen lamaran lainnya. Bagaimana tidak bosan, satu lowongan kerja saja bisa mendatangkan ratusan pelamar kerja. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika perusahaan kami membuka 9 lowongan kerja. Tebaklah berapa jumlah dokumen lamaran yang sampai ke bagian HRD kami? 2452 dokumen! Lalu apa yang harus kami lakukan dengan pelamar sebanyak itu? Memilih secara acak diantara dua ribu orang lebih? Terlalu riskan. Mengundang semuanya untuk wawancara? Terlalu makan waktu, manajemen senior hanya memberikan waktu 2 minggu. Akhirnya seorang rekan mencetuskan sebuah ide yang (menurut saya) agak "jahat", yaitu cukup dengan melihat CV mereka saja. Intinya adalah CV yang tidak...
ALANIS MORISSETTE - Hand In My Pocket I'm broke but I'm happy I'm poor but I'm kind I'm short but I'm healthy, yeah I'm high but I'm grounded I'm sane but I'm overwhelmed I'm lost but I'm hopeful baby What it all comes down to Is that everything's gonna be fine fine fine I've got one hand in my pocket And the other one is giving a high five I feel drunk but I'm sober I'm young and I'm underpaid I'm tired but I'm working, yeah I care but I'm restless I'm here but I'm really gone I'm wrong and I'm sorry baby What it all comes down to Is that everything's gonna be quite alright I've got one hand in my pocket And the other one is flicking a cigarette And what it all comes down to Is that I haven't got it all figured out just yet I've got one hand in my pocket And the other one is giving the peace sign I'm free but I'm focused I'm green but I'm wise I'm hard bu...

Audioslave-Be Yourself

Audioslave Be Yourself Someone falls to pieces Sleepin all alone Someone kills the pain Spinning in the silence To finally drift away Someone gets excited In a chapel yard Catches a bouquet Another lays a dozen White roses on a grave To be yourself is all that you can do To be yourself is all that you can do Someone finds salvation in everyone And another only fame Someone tries to hide themself Down inside their selfish brain Someone swears his true love Untill the end of time Another runs away separated or united? Or is everyone insane? To be yourself is all that you can do To be yourself is all that you can do To be yourself is all that you can do To be yourself is all that you can do You can be fading up And pulled apart Or been in love Every single memory of Could have been faces of love Dont lose any asleep tonight I'm sure everything will end up alright You may win love But to be yourself is all that you can do To be yourself is all that you can do

Intelektual, Aktivis dan Perubahan Sosial

Intelektual, Aktivis dan Perubahan Sosial (1) Berikut ini adalah cukilan artikel yang ditulis oleh Antariksa, Intelektual, Gagasan Subaltern, dan Perubahan Sosial, © 1999-2004 KUNCI Cultural Studies Center: Peran intelektual dalam perancangan dan perubahan sosial telah lama menjadi bahan perdebatan, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Secara ringkas, bisa digambarkan bahwa sebagian berpendapat intelektual seharusnya “berumah di atas angin”. Artinya tugas utamanya adalah bergelut dengan teori dalam bidang yang dipelajarinya di universitas atau lembaga-lembaga penelitian. Karena peran seperti itulah yang memang harus dimainkannya dalam proses perubahan sosial. Biarlah para politisi, teknolog, dan ekonom saja yang terlibat dalam perancangan dan perubahan sosial. Sebagian lainnya berpendapat bahwa intelektual seharusnya “turun ke bumi”, berpartisipasi langsung dalam proses perancangan dan perubahan sosial. Perdebatan yang kelihatan terlalu “hitam-putih” itu tampaknya kini sudah mulai ...